Televisi Butuh Iklan Rokok untuk Pertahankan Kualitas Siaran
Amanda Ferdina – detikNews

Pria Punya Masalah

Pria Punya Masalah

Jakarta – Iklan rokok memang diakui menjadi salah satu sumber pendapatan yang besar untuk media massa khususnya televisi swasta. Bahkan jika iklan rokok dihilangkan, pengelola televisi khawatir kualitas acara yang ditayangkan akan mengalami penurunan.

“Kalau iklan rokok dihilangkan, maka akan berdampak besar bagi televisi kami, yang ditayangkan pun kualitasnya akan menurun,” kata saksi dari Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (APVFI) Elex Kumara.

Hal itu disampaikan dia saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan pengujian UU No 32/2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran) di Mahkamah Konstitusi (MK), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2009).

Elex mengakui, iklan rokok memang bukan pendapatan utama bagi televisi, namun pariwara rokok termasuk dalam 5 besar pendapatan di seluruh televisi Indonesia.

“Sebagai contoh tahun 2008, iklan rokok kretek mendapatkan Rp 1,82 triliun dan dari rokok putih Rp 27,9 miliar,” kata Elex.

Elex mengatakan, produsen rokok juga tidak hanya menyeponsori acara-acara yang ditayangkan oleh televisi. “Malah mereka juga menyeponsori federasi event dan juga ada yang mempunyai sekolah-sekolah olah raga yang menyekolahkan atlet,” lanjut Elex. (ken/iy) detik[dot]com

Uji materi UU Penyiaran tentang iklan rokok kembali digelar dengan agenda keterangan saksi dari pemerintah yakni budayawan Butet Kartaredjasa. Butet menegaskan, jika produsen rokok distop, pekerja seni akan terpuruk.

“Hilangnya produsen rokok akan membuat pekerja seni semakin terpuruk,” ujar Butet di kantor Mahkamah Konstitusi (MK), Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2009).

Butet menjelaskan, untuk memproduksi 1 pertunjukan kebudayaan selama 4 hari menghabiskan uang Rp 300 juta. Hasil penjualan tiket hanya meraih Rp 98 juta. Satu-satunya korporasi yang mau mensupport pagelaran budaya hanya perusahaan rokok.

“Walaupun tidak semuanya tertutup, tapi paling tidak ini bisa membantu,” kata dia.

Menurut Butet, jika perusahaan rokok ditutup sama saja menghilangkan dukungan kepada seniman. “Kalau ruang kreatif itu dibatasi, para seniman dan budayawan bisa mati,” imbuh dia.

Pemohon uji materi UU No 32/2002 tentang Penyiaran pasal 46 ayat 3 huruf c yakni Tim Litigasi untuk pelarangan iklan, promosi dan sponsorship rokok. Tim antara lain terdiri dari Komisi Perlindungan Anak, Lembaga Perlindungan Anak dan perorangan warga negara.

Pemohon menganggap UU tersebut bertentangan dengan pasal 28 b ayat 1, 28 a, 28 c ayat 1 dan pasal 28 f UU 1945. Iklan rokok dikhawatirkan dapat berpengaruh pada anak dan remaja.